“Hey, dengar dulu…” kedua tangannya menahan pundakku yang bergetar.
“Apa lagi?” Air mataku sudah menggenang.
“Bukan karena perbedaan, Tuhan kita satu. Tapi…” Kata-katanya menggantung.
“Tapi apa?” Air mataku membuncah, tumpah ruah tanpa pandang malu lagi.
Dia terdiam, tak bisa melanjutkan kata-katanya.
Aku melepaskan kedua tangannya dari pundakku dan berlalu pergi. Ia tampak lemah, tak bisa menahanku.
***
Malam itu berlalu panjang. Kami baru saja pulang dari Beer Garden, Kemang.
Seperti biasa, malam akan berlanjut di kamarnya. Ciuman panjang dan hangat yang ia berikan membuatku enggan beranjak. Entah apa yang membuat kami selalu melakukan hal yang sama lagi dan lagi. Bercinta dengannya selalu membuatku mendamba, lagi dan lagi.
***
Setelah menggunakan kembali kemejanya, ia mengambil sebotol Gordon yang terletak di atas kulkas. Dituangkannya ke dalam gelas, dan diberikannya padaku.
Ia menghampiri dan memelukku dari belakang. Dengan lembut tangannya mengusap rambutku. Seperti biasa, menjelang tidur ia selalu memilin rambutku. Aku sudah hapal dengan kebiasaannya itu.
”Honey...” Kata-katanya menggantung.
“Ya,” jawabku singkat.
“Tiba-tiba terpikir, gimana ya rasanya kalo kita pisah dan nggak bisa begini lagi,” ujarnya tiba-tiba.
“Maksud kamu?” Aku terduduk. Kantukku seakan hilang.
“Ya… kalau salah satu dari kita tiba-tiba menikah dengan orang lain.” Jawabnya santai.
“Kenapa musti dipikirin sekarang, yaudah sih belum kejadian juga.” Ujarku sewot.
“Hmm….” Ia terdiam, melepaskan jemarinya dari pilinan rambutku.
“Aku rasa…. Aku….” Ucapnya terpatah-patah.
Aku diam, membiarkan ia meneruskan kata-katanya.
“Aku rasa kita nggak bisa begini lagi,” ucapnya datar.
“Kenapa?” Jantungku berhenti seketika.
Dia mengambil tas-nya. Mengeluarkan sebuah plastik yang berisi undangan warna merah maroon.
Dia menyodorkannya kepadaku.
“Apa ini?” Aku memicingkan mata. Tampak tertulis namanya dan Ni Luh di sana.
Aku menatapnya nanar, meminta penjelasan.
”Honey, aku akan segera menikah dengan Ni Luh” Bak kesamber petir aku mendengarnya. Setelah sadar dari kagetku, aku menyambar dress-ku dan mengenakannya. Dia menahanku.
”Honey, biar aku jelasin dulu.”
“Penjelasan apa lagi?”
”Honey, please. Hidup terus berputar. Kita nggak bisa kayak gini terus. Kembalilah ke tunanganmu. Aku juga akan berusaha melepaskanmu dengan ikhlas. Aku yakin kamu akan lebih bahagia dengannya,” cerocosnya.
“Kamu bilang akan meninggalkan Ni Luh
dan suatu saat nanti kita akan menikah,” ujarku.
”Honey, nggak akan mungkin bisa. Realistis lah.”
“Keluargaku dan keluargamu masing-masing nggak akan setuju, kita nggak akan pernah mungkin bisa bersatu,” lanjutnya.
“Udah gitu aja? Setelah hari ini kita senang-senang, dan setelah apa yang kita lakukan selama ini, bisa-bisanya kamu tega begini,” aku tergugu. Badanku menggigil. Entah karena AC di kamarnya yang sangat dingin, atau karena kenyataan yang harus kutelan.
“Hey, dengar dulu…” Kedua tangannya menahan pundakku yang bergetar.
“Apa lagi?” Air mataku sudah menggenang.
“Bukan karena perbedaan, Tuhan kita satu. Tapi…” kata-katanya menggantung.
“Tapi apa?” Air mataku membuncah, tumpah ruah tanpa tertahan lagi.
Dia terdiam, tak bisa melanjutkan kata-katanya.
Aku melepaskan kedua tangannya dari pundakku dan berlalu pergi. Ia tampak lemah, tak bisa menahanku.
***
#CommonBullshit
Monday, May 07, 2012
Sawarna - 22-23 April 2011
“Ke Sawarna, yuk!” ujar Indra.
Awalnya aku bingung, itu tempat apa sih? Mendengar namanya pun baru kali ini. Akhirnya Indra—pacar saya—menceritakan bahwa Sawarna merupakan salah satu pantai yang ada di Sukabumi.
Wah, pantai? Mau banget!
Tapi, err… ternyata Indra dan teman-temannya sama sekali belum pernah ke sana, dan rencana perjalanan ke sana menggunakan angkutan umum.
Awalnya ragu sih, tapi berhubung long weekend kali ini aku belum ada rencana ke mana-mana, akhirnya aku meng-iya-kan ajakan Indra untuk ikut bersama dia dan ketiga temannya.
Berbekal googling dan modal nekat, akhirnya kami berlima—Aku, Indra, Ridho, Fajar, dan Jun-Jun—berangkat juga. Kami berlima pukul 6 pagi sudah berada di terminal Bogor. Terminal bogor dipilih sebagai tempat kumpul karena Ridho, Fajar, dan Jun-Jun tinggal di Bogor. sedangkan aku dan Indra? Dari pagi-pagi buta ngebut dari Jakarta… (ngantuk, Bok!).
Setelah kumpul semua, kami menaiki bus DMI arah Bogor-Pelabuhan ratu (Pelabuhan Ratu apa Sukabumi gitu, aku lupa! :D). Ongkos dari terminal Bogor sampai tujuan Rp25.000. Cukup murah untuk perjalanan yang (sangat amat) panjang ini.
Karena long weekend, jalanan macet parah. Kami sampe tidur-bangun-tidur-bangun tapi nggak sampai-sampai juga.
Akhirnya, setelah 5 jam perjalanan (Fyuh!) sampai juga di terminal Pelabuhan Ratu (lagi-lagi aku lupa, ini terminal Pelabuhan Ratu atau Sukabumi :D).
Setelah turun dari bus, kami bingung, naik apa ya menuju pantai Sawarnanya? Secara belum pernah sama sekali ke sana.
Di tengah kebimbangan kami (haisss) akhirnya ada sekitar 5 orang yang sepertinya tahu daerah tersebut. Rupanya mereka dari Bogor juga satu bus dengan kami tadi. Salah satu dari kami bertanya ke mereka. Daripada malu bertanya malah nyasar, ya nggak! :D
Akhirnya mereka memberi tahu kalau ke sawarna sekitar 1 sampai 1,5 jam naik angkutan ELF.
Akhirnya kami menaiki ELF menuju Sawarna sesuai anjuran orang-orang tadi. ELF tersebut isinya penuh sesak, ada yang bawa ayam pula, Bok! (ini serius). Mana cuaca sedang panas-panasnya, fyuh. Karena masih capek dengan perjalanan dari Bogor tadi, akhirnya aku mencoba untuk tidur.
Tapi ya, bagaimana mau tidur? Jalanan menuju Sawarna benar-benar horor! jalanannya terjal. Turunan, tanjakan, sehingga membuat mobil ELF yang kami tumpangi harus ngebut agar bisa naik.
Ah-la-maaak. Untung aku nggak muntah.
Setelah sampai tujuan, kami ditariki ongkos. satu orang dikenakan biaya ongkos Rp25.000. What??? Padahal penumpang lain hanya Rp7000. Katanya sih, karena kami pelancong, makanya dikenakan lebih mahal berkali-kali lipat. Tapi yasudahlah. Mungkin dengan adanya pelancong-pelancong seperti kami bisa menambah pendapatan mereka.
HAH! Akhirnya terbebas juga dari kendaraan. Pegal juga ya Bok, 6,5 Jam di jalan.
Kami bingung harus ke mana. Di depan kami hanya ada jembatan panjang yang terbuat dari bambu.
“Eh, itu bener jembatannya lho. Kemarin gue sempet lihat di beberapa blog. Yuk!” ujar Jun-Jun.
Hah? Sumpeh-loh-kita-harus-nyebrangin-jembatan-ini.
Akhirnya, setelah diyakinkan bahwa jembatan ini aman, aku berani menyebrangi jembatan tersebut. Ngeri, Bok! Secara di bawah jembatan itu ada sungai yang cukup deras airnya.
Fyuh! setelah-susah-payah akhirnya sampai juga di ujung jembatan, kami melihat sebuah warung.
“Cari minum dulu, yuk!” ajakku.
Kami ngobrol ringan dengan ibu si pemilik warung. Si ibu sepertinya tahu kami pelancong yang masih bingung mau ke mana. Akhirnya si Ibu menawarkan rumahnya untuk disewakan ke kami.
“Neng, lagi cari penginapan ya? Rumah Ibu juga disewain atuh.” Ujar si Ibu, dengan logat sukabumi yang kental.
“Wah, beneran, Bu.” Ujar kami serentak.
“Iya Neng, pantainya dari sini dekat kok, nggak jauh. Suami ibu juga jadi guide Neng.” Lanjut si Ibu.
Kami berpandangan.
Setelah nego harga dengan si Ibu, akhirnya kami sepakat membayar sewa Rp75.000/orang, biaya tersebut sudah termasuk menginap satu malam, dengan 3 kali makan (malam, pagi, siang).
Hah! Lega karena sudah menemukan penginapan dengan biaya yang murah. Rumah si ibu tersebut terdiri dari 2 kamar, ruang tamu, ruang tengah, dan semacam panggung kecil di depan rumahnya untuk bersantai.
Waktu masih menunjukkan pukul 2, kami memutuskan untuk beristirahat sejenak sebelum jalan lagi.
*****
Setelah pukul tiga, kami siap-siap untuk menuju pantai. Perjalanan kali ini ditemani Pak Acep, guide yang juga suami ibu penginapan tadi.
“Mending kita ke Goa Lalay dulu ajah sebelum ke pantai. Jadi ke pantainya biar bisa langsung liat sunset,” ujar Pak Acep.
Karena tujuan perjalanan kami ini memang untuk jalan-jalan, maka kami mengiyakan pak Acep. Menuju ke Goa Lalay tersebut kami naik ojek, per-orang dikenakan biaya Rp10.000. Sebelum masuk goa, kami menyewa senter dari warga sekitar. Biaya sewa senter tersebut adalah Rp20.000.
Sampai mulut goa, saya diam. Saya takut akan gelap.
“Aku di sini aja ya, sekalian jaga sendal,” ujarku.
Bukannya mengiyakan, keempat laki-laki itu malah tertawa.
“Hahaha, udah Di, ayo ikut aja, seru kok!” Ujar Indra.
“Iya, nggak apa-apa Neng, Bapak udah sering ke sini nggak apa-apa kok,” tambah Pak Acep.
Akhirnya, dengan keberanian yang hanya setengah, aku masuk mengikuti pak Acep dan teman-teman lainnya. Goa tersebut tergenang air setinggi betis orang dewasa. Goa-nya cukup panjang.
“Pak, masih jauh nggak? Kira-kira masih lama nggak?” Pertanyaanku membuat semua tergelak. Mereka nggak tahu apa ya kalo aku ketakutan.
“Hahaha, nggak neng sedikit lagi sampai ujung goa. Habis itu kita balik lagi,” ujar pak Acep.
“Hah? Balik lagi, Pak? Jadi goa ini nggak nembus ke mana gitu, Pak?” aku mulai panik.
Pak Acep hanya menggeleng sambil tertawa.
Ya sudah, aku pasrah.
Sampai di tengah-tengah goa, ternyata ruang goa melebar, dan langit-langitnya semakin tinggi.
Wah, keren! seperti orang norak aku berseru. Mereka hanya tertawa.
“Tuh kan, Di. Untung tadi lo nggak balik sendirian ke luar goa, ahaha,” ujar Fajar.
Sial, makiku dalam hati.
Setelah selesai berkeliling, kami kembali ke mulut goa. Sebelum bergegas kami berfoto-foto di mulut goa. Sebenarnya di dalam goa tadi mau foto keadaan goa. Tapi ya, jangankan nyentuh kamera, jalan maju beberapa centi aja susah. Licin, Bok!
Akhirnya, setelah ber-narsis-ria di mulut goa, kami bergegas menuju Pantai. kami mengejar sunset di Pantai Tanjung layar, salah satu rangkaian dar Pantai Sawarna.
*****
Dari goa lalay ke pantai Tanjung Layar memakan waktu sekitar setengah jam perjalanan. Setelah jalan kaki melalu rumah-rumah penduduk, jembatan, beberapa kali tanjakan dan turunan, akhirnya kami sampai juga di Pantai Tanjung Layar.
Rupanya di sana banyak fotografer yang mengejar sunset karena konon sunset di Tanjung Layar sangat bagus. Keempat temanku (yang juga fotografer) ini mengeluarkan kamera masing-masing. Mereka berfoto-foto ria, sedangkan aku hanya duduk-duduk saja menikmati angin pantai. Sementara itu, pak Acep menunggu kami di warung dekat pantai, tampak bercakap-cakap dengan penjaga warung.
Setelah senja habis dan kami puas berfoto-foto ria, akhirnya kami pulang. kami menyusuri bibir pantai, sesuai dengan anjuran pak Acep. Baru kali ini saya merasakan nikmatnya jalan di pinggir pantai selepas senja. Namun, kadang kami melewati batu karang berair yang harus dilewati dengan agak hati-hati untuk menghindari bulu babi.
Perjalanan diisi dengan canda dan gelak tawa kami sehingga perjalanan pulang ke penginapan terasa tidak melelahkan.
Sampai di penginapan sekitar pukul tujuh malam. Kami bersitirahat sejenak di depan penginapan sambil melihat beberapa bule yang lalu-lalang membawa papan seluncur.
Setelah keringatku mengering, aku memutuskan kembali ke kamar dan mandi. Teman-teman yang lain pun masuk ke dalam penginapan, nonton tv sambil menunggu giliran mandi.
*****
Setelah kami semua membersihkan diri, kami berlima kumpul di ruang tengah untuk nonton tv. Rupanya si Ibu pemilik penginapan menyiapkan makan malam. Ia mengeluarkan nasi, ikan bakar, tempe dan tahu goreng. Wah….
Kami langsung menyerbu makanan yang telah disiapkan si Ibu. Walaupun sederhana, makanan tersebut terasa nikmat dan ludes dalam waktu singkat.
Setelah makan kami disuguhi kopi dan singkong goreng.
“Kalau butuh apa-apa, Ibu di belakang ya, Neng,” ujar si Ibu.
“Iya Bu, terima kasih ya singkong gorengnya.” Sahut kami.
Malam itu kami habiskan menonton tv beramai-ramai hingga tertidur di depan tv beralaskan karpet.
*****
“Di, Di, bangun. Yuk udah pagi.” Suara indra membangunkanku dari… entah-mimpi-apa.
Aku langsung mencari handphone untuk mencari tahu jam berapa sekarang. Pukul 06.30 ternyata. Aku mengambil handuk, bergegas untuk mandi. Tiba-tiba si Ibu pemilik penginapan muncul dengan sebakul nasi goreng.
“Neng, mandinya mah nanti ajah habis main pasir. Sekarang teh makan dulu aja, yuk.” Ujar si Ibu.
Hmmm… benar juga, sih.
Akhirnya aku menaruh kembali handuk yang kubawa tadi ke kamar. Aku bergabung dengan teman-teman lainnya, mengambil piring dan menyantap suguhan sarapan yang dibuat si Ibu. Nasi goreng, telur setengah matang, dan segelas teh hangat. What a beautiful morning :)
Setelah menghabiskan sarapan kami bergegas ke pantai Sawarna. Pak Acep menganjurkan agar kami ke pantai Lebak Pari saja. Pantai Lebak Pari merupakan salah satu rangkaian pantai Sawarna juga. menurut pak Acep pantai tersebut agak jauh memang, tetapi pantainya sepi, jarang sekali pelancong yang ke sana. kami menurut pak Acep saja dan mengikutinya.
Kami menyusuri rumah-rumah penduduk dan pematang sawah. Wah, jauh juga ya. Kalau capek kami berhenti sejenak dan berfoto-foto ria sebagai bukti perjalanan.
Setelah 1 jam perjalanan, akhirnya sampai juga!
Di depan kami terhampar pemandangan pasir pantai dan lautan tanpa batas. Sepi! Hanya nampak seorang nelayan yang sedang merapatkan perahunya.
Hah! Seketika rasa capek kami hilang. Setelah melepas sandal dan meletakkan kamera, kami berlima berlarian menghampiri air laut. Pak Acep tertawa. Beliau menawarkan diri untuk memfoto kami.
Kami tertawa, bermain pasir, dan berkejaran dengan ombak. Puas sekali. Serasa pantai ini milik kami pribadi. Matahari pun seakan meridhoi kami bermain, malu-malu menampakkan sinarnya.
Setelah puas bermain, kami terkapar di pantai. Matahari pun mulai menunjukkan sinarnya. Kulirik jam di handphone-ku, waktu sudah menunjukkan pukul sembilan. Dengan berat hati kami meninggalkan pantai untuk kembali ke penginapan.
*****
Sesampainya di penginapan, ternyata si ibu pemilik penginapan telah menyiapkan kelapa muda utuh, hasil dari kebunnya. Wah! Nikmat sekali istirahat menikmati angin di depan penginapan sambil menikmati kelapa muda.
Setelah capek kami hilang, kami bergantian mandi untuk membersihkan diri dari pasir pantai. Wah, ternyata pasir yang menempel di baju kami banyak sekali! Bakal berat nih, bawaan pakaian kotor.
Setelah kami semua bersih, si Ibu menyuguhkan makanan (lagi). Si Ibu sih bilangnya makan siang. Padahal baru pukul sebelas. Berhubung kami sangat lapar karena jalan jauh, akhirnya makanan yang si Ibu sajikan habis juga.
Kami kembali ke kamar setelah makan, bergegas membereskan barang-barang bawaan karena kami harus pulang. Berat memang, tapi waktu memaksa kami untuk kembali ke kehidupan nyata :D.
Setelah meminta nomor telepon Pak Acep dan berjanji ke Ibu pemilik penginapan bahwa kami akan kembali ke sana, kami berpamitan. Kami sangat berterima kasih karena keluarga mereka benar-benar menyuguhkan pelayanan layaknya kami adalah bagian dari keluarga mereka. Benar-benar perjalanan tidak terlupakan. Walaupun hanya 2 hari 1 malam, dan dengan biaya yang cukup murah, tapi kami merasakan liburan yang benar-benar liburan.
Kami janji akan kembali, Sawarna.
Dian Novitasari
Sawarna, 22-23 April 2011
Dalam perjalanan waktu, terkadang kita harus merelakan beberapa hal.
Ikhlas? Harus!
Mau tak mau, memang harus mau.
Kerelaan yang mengubah fase hidup. Bahkan ketika kita berpikir, seharusnya ini bukan jalan seharusnya.
Klise.
Jakarta, 7 Januari 2012